Selasa, 14 April 2015

Anime Harem


Harem berasal dari bahasa Arab harim, artinya ruang dalam rumah yang diperuntukkan bagi perempuan dalam rumah tangga poligini. Pada zaman khilafah Turki Utsmani, Harem adalah wilayah pribadi sultan yang tidak sembarang orang dapat memasukinya. (wikipedia)

Dalam budaya modern, istilah harem sering diasosiasikan sebagai salah satu genre manga/anime yang memiliki arti kurang lebih mirip (poligini sceme). Suatu anime disebut sebagai anime harem apabila terdapat tokoh utama cowok yang dikelilingi oleh tokoh-tokoh cewek dengan perbandingan jauh lebih banyak (di atas 1:3) dimana tiap-tiap atau sebagian besar dari tokoh cewek tersebut menyimpan perasaan ‘suka’ terhadap karakter cowok tersebut. (ane, 2015 :P)
Contoh anime harem sangatlah banyak. Terlebih lagi akhir-akhir ini, setiap musim selalu saja ada anime harem baru yang bermunculan. Anime harem mulai mendominasi kurang lebih pada era 2007 ke atas, ditandai dengan munculnya anime Kanon, Seitokai no Ichizon, Clannad, Air, Chaos;Head, dan lain sebagainya. Bahkan, mulai 4 tahun terakhir ini, anime harem seperti menjadi menu wajib bagi penggemar anime. Hal ini membuat berbagai rumah produksi animasi Jepang yang seringkali membuat sekuel bagi anime-anime yang sebagian besar juga bergenre ecchi ini. Sebut saja Highschool DxD, Infinite Stratos, Date A Live, atau Boku ha Tomodachi ga Sukunai.
Berikut ciri-ciri anime harem yang dapat ane tarik kesimpulan dari pengalaman pribadi:
1.       Tokoh utama cowok, dikelilingi banyak tokoh cewek (bisa juga sebaliknya, yang akan disebut belakangan)
2.       Tokoh-tokoh cewek memiliki rasa suka pada tokoh utama cowok dan saling berebut untuk mendapatkan ‘cinta balik’ dari sang tokoh utama.
3.       Tokoh utama cowok biasanya biasaaaa banget. Sebagian kecil yang punya kekuatan lebih pun hanya mendapat kekuatan tersebut secara kebetulan alias beruntung (misal Orimura Ichika [IS], Amakusa Shidou [DAL]).
4.       Sifat tokoh utama pasti selalu terdiri dari setidaknya satu diantara sifat berikut:
a.       Polos
b.      Jujur
c.       Baik hati & suka menolong
d.      Gugup kalo ngeliat ‘aurat’
e.      Gak peka kalo ada cewek yang suka ke dia
5.       Tokoh-tokoh cewek pasti mengandung setidaknya satu dari sifat berikut:
a.       Tsundere
b.      Kuudere
c.       Yandere à not always
d.      Osananajimi (childhood friend)
e.      Deredere (pemalu)
f.        Imouto (adik cewek)
6.       Tokoh cowok selain tokoh utama juga ada dan selalu menyertai tokoh utama dimanapun ia pergi (best friend lah), namun 90% dari mereka pasti ndak ada apa2nya dibanding tokoh utama dimata cewek. Hal tersebut biasanya terjadi karena tokoh tersebut kurang ganteng, bego, konyol, gak sensitif, dan yang pasti,, perverted. Misal saja: Sunohara [CLANNAD], Takeshi [Kimimachi], Daru [Steins;Gate], Sugu [Kokoro Connect], ato sapa itu di Hoshizora e Kakaru Hashi.
7.       Fan service. Dulu sih nggak wajib, tapi sejak negara api menyerang jaman CLANNAD berakhir, kayaknya semua anime harem harus ada ininya deh. Bahkan sering kali pake adegan ecchi yang berlebih juga. Mungkin ini ya yang bikin genre ini digemari. Soalnya (bukan cuma menurut ane) hampir semua anime harem itu storyline dan ide ceritanya itu norak dan ga mutu.

Macam-macam genre harem:
    Anime harem tentunya tidak sama persis semua. Genre ini masih bisa dipecah menjadi beberapa sub-genre yang sangat mempengaruhi jalan cerita, sasaran penonton, mutu, dan daya tariknya. Berikut beberapa sub-genre yang ane temukan+bikin istilah sendiri menurut pengalaman:
1.       Just Harem
Sebenarnya nggak perlu pake ‘just’ sih. Intinya ini model anime yang cuma harem biasa aja. Intinya karakter cowok satu, cewek banyak, terus ada romance-nya. Just that. No crappy fans services, dan sebagian besar ceritanya memang bagus. Misalnya saja anime-anime harem garapan Key seperti Air, Kanon, Angel Beats, Clannad, Little Buster…
2.       Pseudo-harem
Anime-anime pseudo harem ini agak susah dikenali. Kadang mirip anime harem biasa, namun sebenarnya, kesan romance-nya itu agak kurang. Tokoh utama terlihat hanya dikelilingi banyak tokoh cewek, namun konflik romance antara tokoh cewek satu dengan yang lain itu amatlah kurang. Sifat-sifat yang ane deskripsikan ada pada tokoh cewek tadi pun juga hampir tak ada. Biasanya anime seperti ini memiliki suasana yang lebih serius, dan terfokus pada genre utama yang bukan romance dan harem. Misalnya saja Steins;Gate, Chaos;Head, Tokyo Ravens, Monogatari series, Black Bullet, Strike the Blood, Gokukoku no Brynhildr atau Sword Art Online (1).
3.       Reverse-harem
Sudah jelas. Seperti yang ane singgung duluan, reverse-harem mengacu pada situasi di mana tokoh utama merupakan tokoh cewek, dengan banyak tokoh cowok yang mengelilinginya. Contohnya (bukannya karena ane pernah nonton lho ya) Kamisama Hajimemashita, Amnesia, Makai-Ouji, dsb.
4.       Mainstream harem
Sebenarnya, itu istilah bikinan ane sendiri sih. Dan mungkin jika ane mau lebih jujur, sebagian besar anime dari sub genre tersebut mau ane pisahin ke sub-genre crappy harem aja. Soalnya, jalan cerita anime macam ini gampang banget ditebak. Settingnya di dunia antah berantah atau di masa depan, si tokoh utama dapet kekuatan super, fans service dimana-mana, scene ecchi bertebaran, cerita kayak cerita buat anak-anak, dan ujung-ujungnya… ending gak jelas. Sayangnya, jenis harem seperti inilah yang sebenarnya paling umum. Misal: Date A Live, Infinite Stratos, Hagure Yuusha no Estetica, OniAi, OreShura, Ichiban Ushiro no Daimaou, NouCome, Hidan no Aria, Highschool DxD, Kore ha Zombie Desuka, Boku ha Tomodachi ga Sukunai, Trinity Seven dsb.
5.       Omnibus Harem
Nah, apaan tuh? Jangan2 ane Cuma bikin2 istilah baru lagi. Eh, ndak juga lho. Anime harem berformat omnibus itu bertujuan untuk “to dismantle harem genre anime such that the protagonist is able to have romantic developments with the multiple different chosen candidate without having a dispute between each other” – Myanimelist.com
Intinya, kayak di galge-galge itu. Jadi tiap heroine punya romantic opportunity dengan sang tokoh utama. Contoh yang paling jelas ya Amagami SS sama Photokano. Or, if you prefer some extreme example, Yosuga no Sora (>_<).

                Kesimpulannya, anime harem itu bukan hanya sekedar genre, namun sudah seperti membentuk grup tersendiri dalam dunia peranimean. Genre ini mampu disusupkan di mana aja, mulai dari yang serius sampe yang gak penting, dari yang story-nya the best sampe asal-asalan. Dan pada akhirnya genre ini juga penting untuk memuaskan selera dan preferensi tiap-tiap penggemar anime (baca:wibu). Perkembangannya menarik untuk dikaji, dan mungkin layak dijadikan skripsi. Ada yang tertarik mbikin :v?


Kamis, 09 April 2015

The Never to be Finished Story

Atsui...
Udara akhir musim semi di Tohoku memang cukup panas. Meski sebenarnya sekarang masih akhir bulan April dan sakura masih bermekaran, udara hari ini terasa lebih panas dari biasanya. Beberapa awan yang berarak di angkasa tak mampu memberi keteduhan sedikitpun. Mereka sepertinya sedang menghindari sang mentari, layaknya diriku yang sedang mencoba menghindari tatapan aneh mahasiswa lain di sekelilingku.
Ya, tahun ini aku akan mulai menuntut ilmu di sini. Tohoku University, perguruan tinggi internasional paling monokulturalistik di Jepang (katanya). Sebagian besar mahasiswa di sini memang asli keturunan orang Jepang. Entah itu asli lahir di negara ini, atau yang lahir dan dibesarkan di luar negri. Mungkin karena itulah wajah dan kulitku yang tropis seperti ini memancing perhatian orang di sekitarku.
Tropis...
Yah.
Tapi, tetap saja kulit ‘tropis’ku ini tak mampu menahan sengatan sinar matahari siang itu.
Atsui...

__________________________________________

Samui...
AC di koridor ini sepertinya diset agak terlalu sejuk. Mungkin agak begitu buang-buang energi mengingat ini adalah satu dari sedikit koridor yang pernah kutemui memiliki AC sebagai pengatur suhunya. Entah apa yang dipikirkan orang yang mengaturnya sedemikian rupa. Kampus Faculty of Environmental Engineering seharusnya lebih mampu memperhatikan kelestarian lingkungan kan?
......
Lagi-lagi, aku merasakan tatapan mata orang-orang di sekitarku. Hmph, apa sih masalah mereka? Wajah-wajah seperti itulah yang membuatku sedari tadi tak berani bertanya meskipun sebenarnya aku sedang ‘agak’ tersesat. Yah, selain itu,, aku sebenarnya juga takut jika bahasa Jepangku masih begitu buruk dan malah jadi bahan tertawaan mereka nantinya.
Aku menghentikan langkahku sejenak untuk mengamati papan nama ruangan di atasku.
‘Ruang Presentasi 1’
Hmm,, bukan.
Jika papan petunjuk di dekat tangga tadi benar, seharusnya ruangan yang sedang kucari sudah tak jauh lagi dari sini.
Satu ruangan, dua ruangan, tiga ruangan..
Yak, ini dia. Papan bertanda ‘Ruang Kuliah 2’ terpampang di atas pintu di depanku. Pintu biasa, seperti layaknya pintu-pintu kampus pada umumnya. Desainnya simpel, namun memiliki nilai estetika yang lumayan. Kubikal, dengan sentuhan desain metro yang futuristik. Handelnya masih nampak berkilap. Masih barukah? Atau memang terbuat dari logam yang berkualitas tinggi? Chrome? Stainless steel? Aluminium?
Wait, aku tak punya waktu untuk itu. Aku meletakkan tanganku di gagang pintu itu dan membukanya perlahan. Udara dingin ruang itu berhembus ke wajahku yang agak berjerawat.
Samui.....

Di dalam ruangan itu, belasan mahasiswa lain tampak sudah duduk di tempatnya masing-masing. Ruang kuliah yang berbentuk tribunal, persis seperti ruang kuliah yang sering kulihat di film-film. Seorang dosen muda berkacamata tipis tampak duduk di mejanya sambil sibuk mengetik sesuatu di laptopnya. Separuh dari orang yang berada di ruangan itu mengalihkan matanya ke arahku yang baru saja masuk, termasuk sang dosen.
Tolong, jangan menatap aku seperti itu.
“Oh, kamu yang baru saja datang. Silahkan duduk,” Dosen itu mempersilahkan dengan ramah.
Aku mengangguk kecil. Hmm,,, sepertinya tak begitu buruk juga.
Kuputuskan untuk mengambil tempat duduk di tengah. Mataku yang hampir minus tiga ini memang perlu mendapat sudut khusus dalam perkuliahan.
Tengah ruangan. Tidak terlalu kedepan agar tak memancing perhatian sang dosen, maupun terlalu kebelakang agar masih mampu melihat tulisan di papan tulis.
Namun seperti layaknya mahasiswa baru di negara baru, aku masih terpisah dari kumpulan mahasiswa lainnya. Well, aku memang merasa lebih menikmati kesendirian. Mahasiswa lain yang paling dekat dari tempatku duduk sekarang adalah seorang gadis manis berkacamata bulat yang kelihatan pendiam.
Heh,, seperti aku bukan seorang pendiam saja...
Karena sepertinya perkuliahan pertama ini belum akan dimulai dalam waktu dekat, aku membuka laptopku. Pernah dengar jika internet di Jepang itu cepat? Yeah... I’m enjoying it.
Dalam beberapa menit berikutnya, sekitar 5-6 mahasiswa lain memasuki ruangan. Aku tak begitu peduli untuk melihat wajah mereka satu persatu. Jika mereka memang pantas untuk kujadikan teman, cepat atau lambat aku akan mengenal mereka.
Sang dosen yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya kini berdiri. Tampaknya semua mahasiswa yang seharusnya berada di ruang ini sudah terkumpul seluruhnya. Cukup mengejutkan juga, mengingat ruangan sebesar ini hanya diisi oleh 20an orang. Well, mungkin dengan sisa ruangan yang ada, kami bisa main petak umpet sambil main bola. Hehe..
Dosen itu mulai memperkenalkan dirinya dalam bahasa Jepang yang cepat dan fasih (tentu saja).
“Selamat siang semuanya! Perkenalkan, saya DR. Kawaguchi Minato. Saya akan mengajar mata kuliah Environment Principal selama satu semester kedepan. Saya berasal dari ,,,, bla ,,, bla ,,, bla ,,,,
Hh,,, seperti aku ingin tahu saja. Selain bahasa Jepangku yang masih pas-pasan, pelajaran yang sesungguhnya mungkin belum akan dimulai hari ini. Paling hanya akan ada perkenalan saja.
Glek. Perkenalan..
“Oke, sekarang mari kita mulai perkenalan dirinya. Mungkin bisa dimulai dari barisan yang paling depan. Silahkan maju ke depan dan tulis nama kalian di papan tulis,” Kawaguchi sensei (kuputuskan untuk memanggilnya begitu mulai dari sekarang) memberi komando.
What? Memangnya apa ini? Koukou ka?
Seorang mahasiswi berpakaian nyentrik tampak maju kedepan. Hmmm... not my type. Abaikan..
Setelah beberapa orang maju kedepan, giliranku kini semakin dekat. Gadis yang tadi duduk disampingku kini telah maju kedepan dan memperkenalkan dirinya.
-something- zawa Hana’
Entah kanji apa itu. Ia tampak malu-malu setelah selesai menuliskan namanya. I wonder why...
“Eh, ano, hajimemashite, watashi no namae wa Kanazawa Hana to omoushimasu. Yoroshiku onegaishimasu!”
Mendadak, seisi ruangan yang tadinya mengabaikannya kini mengalihkan perhatian kepadanya. Hal itu karena ia mengatakan itu semua dengan logat yang aneh. Logat Fukui. Logat yang pastinya amat jarang terdengar di prefektur ini. Bisa dibilang logat fukui itu seperti ‘sunda’nya Jepang. Melambai-lambai dan mengayun-ayun.
Mungkin itu yang dari tadi membuatnya kelihatan gugup.  
Tak apa, Kanazawa-san. Kita berada dalam situasi yang sama.
Gadis itu kembali ke tempat duduknya di sebelahku. Yosh, sekarang giliranku.
Aku maju ke depan dengan langkah yang agak gugup. Seolah-olah, semua mata sedang tertuju ke arahku. Perlahan-lahan, kutuliskan namaku di papan tulis. Romaji, katakana, bahkan kanjinya sekaligus (nama kanji itu sudah kupastikan pada sensei kursus bahasa Jepangku dulu).
Sebuah nama orang Indonesia yang umum. Namun tentu saja, semua orang di ruangan itu manpak kesulitan mengeja tulisan latinnya.
“Kurai...”
“Kuro..”
“Kure...”
Beberapa mencoba mengejanya. Hmph, payah. Inikah mahasiswa S2 di Jepang? Pikirku.
“Key[1]-kun desu,” ujarku jelas.
“Panggil saja aku Key. Itu nama panggilanku saat kursus bahasa Jepang kemarin.”



  






[1] Baca: Kiy