Kamis, 09 April 2015

The Never to be Finished Story

Atsui...
Udara akhir musim semi di Tohoku memang cukup panas. Meski sebenarnya sekarang masih akhir bulan April dan sakura masih bermekaran, udara hari ini terasa lebih panas dari biasanya. Beberapa awan yang berarak di angkasa tak mampu memberi keteduhan sedikitpun. Mereka sepertinya sedang menghindari sang mentari, layaknya diriku yang sedang mencoba menghindari tatapan aneh mahasiswa lain di sekelilingku.
Ya, tahun ini aku akan mulai menuntut ilmu di sini. Tohoku University, perguruan tinggi internasional paling monokulturalistik di Jepang (katanya). Sebagian besar mahasiswa di sini memang asli keturunan orang Jepang. Entah itu asli lahir di negara ini, atau yang lahir dan dibesarkan di luar negri. Mungkin karena itulah wajah dan kulitku yang tropis seperti ini memancing perhatian orang di sekitarku.
Tropis...
Yah.
Tapi, tetap saja kulit ‘tropis’ku ini tak mampu menahan sengatan sinar matahari siang itu.
Atsui...

__________________________________________

Samui...
AC di koridor ini sepertinya diset agak terlalu sejuk. Mungkin agak begitu buang-buang energi mengingat ini adalah satu dari sedikit koridor yang pernah kutemui memiliki AC sebagai pengatur suhunya. Entah apa yang dipikirkan orang yang mengaturnya sedemikian rupa. Kampus Faculty of Environmental Engineering seharusnya lebih mampu memperhatikan kelestarian lingkungan kan?
......
Lagi-lagi, aku merasakan tatapan mata orang-orang di sekitarku. Hmph, apa sih masalah mereka? Wajah-wajah seperti itulah yang membuatku sedari tadi tak berani bertanya meskipun sebenarnya aku sedang ‘agak’ tersesat. Yah, selain itu,, aku sebenarnya juga takut jika bahasa Jepangku masih begitu buruk dan malah jadi bahan tertawaan mereka nantinya.
Aku menghentikan langkahku sejenak untuk mengamati papan nama ruangan di atasku.
‘Ruang Presentasi 1’
Hmm,, bukan.
Jika papan petunjuk di dekat tangga tadi benar, seharusnya ruangan yang sedang kucari sudah tak jauh lagi dari sini.
Satu ruangan, dua ruangan, tiga ruangan..
Yak, ini dia. Papan bertanda ‘Ruang Kuliah 2’ terpampang di atas pintu di depanku. Pintu biasa, seperti layaknya pintu-pintu kampus pada umumnya. Desainnya simpel, namun memiliki nilai estetika yang lumayan. Kubikal, dengan sentuhan desain metro yang futuristik. Handelnya masih nampak berkilap. Masih barukah? Atau memang terbuat dari logam yang berkualitas tinggi? Chrome? Stainless steel? Aluminium?
Wait, aku tak punya waktu untuk itu. Aku meletakkan tanganku di gagang pintu itu dan membukanya perlahan. Udara dingin ruang itu berhembus ke wajahku yang agak berjerawat.
Samui.....

Di dalam ruangan itu, belasan mahasiswa lain tampak sudah duduk di tempatnya masing-masing. Ruang kuliah yang berbentuk tribunal, persis seperti ruang kuliah yang sering kulihat di film-film. Seorang dosen muda berkacamata tipis tampak duduk di mejanya sambil sibuk mengetik sesuatu di laptopnya. Separuh dari orang yang berada di ruangan itu mengalihkan matanya ke arahku yang baru saja masuk, termasuk sang dosen.
Tolong, jangan menatap aku seperti itu.
“Oh, kamu yang baru saja datang. Silahkan duduk,” Dosen itu mempersilahkan dengan ramah.
Aku mengangguk kecil. Hmm,,, sepertinya tak begitu buruk juga.
Kuputuskan untuk mengambil tempat duduk di tengah. Mataku yang hampir minus tiga ini memang perlu mendapat sudut khusus dalam perkuliahan.
Tengah ruangan. Tidak terlalu kedepan agar tak memancing perhatian sang dosen, maupun terlalu kebelakang agar masih mampu melihat tulisan di papan tulis.
Namun seperti layaknya mahasiswa baru di negara baru, aku masih terpisah dari kumpulan mahasiswa lainnya. Well, aku memang merasa lebih menikmati kesendirian. Mahasiswa lain yang paling dekat dari tempatku duduk sekarang adalah seorang gadis manis berkacamata bulat yang kelihatan pendiam.
Heh,, seperti aku bukan seorang pendiam saja...
Karena sepertinya perkuliahan pertama ini belum akan dimulai dalam waktu dekat, aku membuka laptopku. Pernah dengar jika internet di Jepang itu cepat? Yeah... I’m enjoying it.
Dalam beberapa menit berikutnya, sekitar 5-6 mahasiswa lain memasuki ruangan. Aku tak begitu peduli untuk melihat wajah mereka satu persatu. Jika mereka memang pantas untuk kujadikan teman, cepat atau lambat aku akan mengenal mereka.
Sang dosen yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya kini berdiri. Tampaknya semua mahasiswa yang seharusnya berada di ruang ini sudah terkumpul seluruhnya. Cukup mengejutkan juga, mengingat ruangan sebesar ini hanya diisi oleh 20an orang. Well, mungkin dengan sisa ruangan yang ada, kami bisa main petak umpet sambil main bola. Hehe..
Dosen itu mulai memperkenalkan dirinya dalam bahasa Jepang yang cepat dan fasih (tentu saja).
“Selamat siang semuanya! Perkenalkan, saya DR. Kawaguchi Minato. Saya akan mengajar mata kuliah Environment Principal selama satu semester kedepan. Saya berasal dari ,,,, bla ,,, bla ,,, bla ,,,,
Hh,,, seperti aku ingin tahu saja. Selain bahasa Jepangku yang masih pas-pasan, pelajaran yang sesungguhnya mungkin belum akan dimulai hari ini. Paling hanya akan ada perkenalan saja.
Glek. Perkenalan..
“Oke, sekarang mari kita mulai perkenalan dirinya. Mungkin bisa dimulai dari barisan yang paling depan. Silahkan maju ke depan dan tulis nama kalian di papan tulis,” Kawaguchi sensei (kuputuskan untuk memanggilnya begitu mulai dari sekarang) memberi komando.
What? Memangnya apa ini? Koukou ka?
Seorang mahasiswi berpakaian nyentrik tampak maju kedepan. Hmmm... not my type. Abaikan..
Setelah beberapa orang maju kedepan, giliranku kini semakin dekat. Gadis yang tadi duduk disampingku kini telah maju kedepan dan memperkenalkan dirinya.
-something- zawa Hana’
Entah kanji apa itu. Ia tampak malu-malu setelah selesai menuliskan namanya. I wonder why...
“Eh, ano, hajimemashite, watashi no namae wa Kanazawa Hana to omoushimasu. Yoroshiku onegaishimasu!”
Mendadak, seisi ruangan yang tadinya mengabaikannya kini mengalihkan perhatian kepadanya. Hal itu karena ia mengatakan itu semua dengan logat yang aneh. Logat Fukui. Logat yang pastinya amat jarang terdengar di prefektur ini. Bisa dibilang logat fukui itu seperti ‘sunda’nya Jepang. Melambai-lambai dan mengayun-ayun.
Mungkin itu yang dari tadi membuatnya kelihatan gugup.  
Tak apa, Kanazawa-san. Kita berada dalam situasi yang sama.
Gadis itu kembali ke tempat duduknya di sebelahku. Yosh, sekarang giliranku.
Aku maju ke depan dengan langkah yang agak gugup. Seolah-olah, semua mata sedang tertuju ke arahku. Perlahan-lahan, kutuliskan namaku di papan tulis. Romaji, katakana, bahkan kanjinya sekaligus (nama kanji itu sudah kupastikan pada sensei kursus bahasa Jepangku dulu).
Sebuah nama orang Indonesia yang umum. Namun tentu saja, semua orang di ruangan itu manpak kesulitan mengeja tulisan latinnya.
“Kurai...”
“Kuro..”
“Kure...”
Beberapa mencoba mengejanya. Hmph, payah. Inikah mahasiswa S2 di Jepang? Pikirku.
“Key[1]-kun desu,” ujarku jelas.
“Panggil saja aku Key. Itu nama panggilanku saat kursus bahasa Jepang kemarin.”



  






[1] Baca: Kiy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar