Atsui...
Udara akhir musim semi di Tohoku memang cukup
panas. Meski sebenarnya sekarang masih akhir bulan April dan sakura masih
bermekaran, udara hari ini terasa lebih panas dari biasanya. Beberapa awan yang
berarak di angkasa tak mampu memberi keteduhan sedikitpun. Mereka sepertinya
sedang menghindari sang mentari, layaknya diriku yang sedang mencoba
menghindari tatapan aneh mahasiswa lain di sekelilingku.
Ya, tahun ini aku akan mulai menuntut ilmu di
sini. Tohoku University, perguruan tinggi internasional paling monokulturalistik di Jepang
(katanya). Sebagian besar mahasiswa di sini memang asli keturunan orang Jepang.
Entah itu asli lahir di negara ini, atau yang lahir dan dibesarkan di luar
negri. Mungkin karena itulah wajah dan kulitku yang tropis seperti ini
memancing perhatian orang di sekitarku.
Tropis...
Yah.
Tapi, tetap saja kulit ‘tropis’ku ini tak
mampu menahan sengatan sinar matahari siang itu.
Atsui...
__________________________________________
Samui...
AC di koridor ini sepertinya diset agak
terlalu sejuk. Mungkin agak begitu buang-buang energi mengingat ini adalah satu
dari sedikit koridor yang pernah kutemui memiliki AC sebagai pengatur suhunya. Entah
apa yang dipikirkan orang yang mengaturnya sedemikian rupa. Kampus Faculty of Environmental Engineering seharusnya
lebih mampu memperhatikan kelestarian lingkungan kan?
......
Lagi-lagi, aku merasakan tatapan mata
orang-orang di sekitarku. Hmph, apa sih masalah mereka? Wajah-wajah seperti
itulah yang membuatku sedari tadi tak berani bertanya meskipun sebenarnya aku
sedang ‘agak’ tersesat. Yah, selain itu,, aku sebenarnya juga takut jika bahasa
Jepangku masih begitu buruk dan malah jadi bahan tertawaan mereka nantinya.
Aku menghentikan langkahku sejenak untuk
mengamati papan nama ruangan di atasku.
‘Ruang Presentasi 1’
Hmm,, bukan.
Jika papan petunjuk di dekat tangga tadi
benar, seharusnya ruangan yang sedang kucari sudah tak jauh lagi dari sini.
Satu ruangan, dua ruangan, tiga ruangan..
Yak, ini dia. Papan bertanda ‘Ruang Kuliah 2’
terpampang di atas pintu di depanku. Pintu biasa, seperti layaknya pintu-pintu kampus pada umumnya.
Desainnya simpel, namun memiliki nilai estetika yang lumayan. Kubikal, dengan
sentuhan desain metro yang futuristik. Handelnya masih nampak berkilap. Masih
barukah? Atau memang terbuat dari logam yang berkualitas tinggi? Chrome?
Stainless steel? Aluminium?
Wait, aku tak punya waktu untuk itu. Aku
meletakkan tanganku di gagang pintu itu dan membukanya perlahan. Udara dingin
ruang itu berhembus ke wajahku yang agak berjerawat.
Samui.....
Di dalam ruangan itu, belasan mahasiswa lain
tampak sudah duduk di tempatnya masing-masing. Ruang kuliah yang berbentuk
tribunal, persis seperti ruang kuliah yang sering kulihat di film-film. Seorang
dosen muda berkacamata tipis tampak duduk di mejanya sambil sibuk mengetik
sesuatu di laptopnya. Separuh dari orang yang berada di ruangan itu mengalihkan
matanya ke arahku yang baru saja masuk, termasuk sang dosen.
Tolong, jangan menatap aku seperti itu.
“Oh, kamu yang baru saja datang. Silahkan
duduk,” Dosen itu mempersilahkan dengan ramah.
Aku mengangguk kecil. Hmm,,, sepertinya tak
begitu buruk juga.
Kuputuskan untuk mengambil tempat duduk di
tengah. Mataku yang hampir minus tiga ini memang perlu mendapat sudut khusus
dalam perkuliahan.
Tengah ruangan. Tidak terlalu kedepan agar
tak memancing perhatian sang dosen, maupun terlalu kebelakang agar masih mampu
melihat tulisan di papan tulis.
Namun seperti layaknya mahasiswa baru di
negara baru, aku masih terpisah dari kumpulan mahasiswa lainnya. Well, aku
memang merasa lebih menikmati kesendirian. Mahasiswa lain yang paling dekat
dari tempatku duduk sekarang adalah seorang gadis manis berkacamata bulat yang
kelihatan pendiam.
Heh,, seperti aku bukan seorang pendiam
saja...
Karena sepertinya perkuliahan pertama ini
belum akan dimulai dalam waktu dekat, aku membuka laptopku. Pernah dengar jika
internet di Jepang itu cepat? Yeah... I’m enjoying it.
Dalam beberapa menit berikutnya, sekitar 5-6
mahasiswa lain memasuki ruangan. Aku tak begitu peduli untuk melihat wajah
mereka satu persatu. Jika mereka memang pantas untuk kujadikan teman, cepat
atau lambat aku akan mengenal mereka.
Sang dosen yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya
kini berdiri. Tampaknya semua mahasiswa yang seharusnya berada di ruang ini
sudah terkumpul seluruhnya. Cukup mengejutkan juga, mengingat ruangan sebesar
ini hanya diisi oleh 20an orang. Well, mungkin dengan sisa ruangan yang ada,
kami bisa main petak umpet sambil main bola. Hehe..
Dosen itu mulai memperkenalkan dirinya dalam
bahasa Jepang yang cepat dan fasih (tentu saja).
“Selamat siang semuanya! Perkenalkan, saya DR.
Kawaguchi Minato. Saya akan mengajar mata kuliah Environment Principal selama satu semester kedepan. Saya berasal
dari ,,,, bla ,,, bla ,,, bla ,,,,
Hh,,, seperti aku ingin tahu saja. Selain
bahasa Jepangku yang masih pas-pasan, pelajaran yang sesungguhnya mungkin belum akan dimulai hari
ini. Paling hanya akan ada perkenalan saja.
Glek. Perkenalan..
“Oke, sekarang mari kita mulai perkenalan
dirinya. Mungkin bisa dimulai dari barisan yang paling depan. Silahkan maju ke
depan dan tulis nama kalian di papan tulis,” Kawaguchi sensei (kuputuskan untuk
memanggilnya begitu mulai dari sekarang) memberi komando.
What? Memangnya apa ini? Koukou
ka?
Seorang mahasiswi berpakaian nyentrik tampak
maju kedepan. Hmmm... not my type. Abaikan..
Setelah beberapa orang maju kedepan,
giliranku kini semakin dekat. Gadis yang tadi duduk disampingku kini telah maju kedepan dan
memperkenalkan dirinya.
‘-something- zawa Hana’
Entah kanji apa itu. Ia tampak malu-malu
setelah selesai menuliskan namanya. I wonder why...
“Eh, ano,
hajimemashite, watashi no namae wa Kanazawa
Hana to omoushimasu. Yoroshiku onegaishimasu!”
Mendadak, seisi ruangan yang tadinya
mengabaikannya kini mengalihkan perhatian kepadanya. Hal itu karena ia
mengatakan itu semua dengan logat yang aneh. Logat Fukui. Logat yang pastinya amat
jarang terdengar di prefektur ini. Bisa dibilang logat fukui itu seperti
‘sunda’nya Jepang. Melambai-lambai dan mengayun-ayun.
Mungkin itu yang dari tadi membuatnya
kelihatan gugup.
Tak apa, Kanazawa-san. Kita berada dalam
situasi yang sama.
Gadis itu kembali ke tempat duduknya di
sebelahku. Yosh, sekarang giliranku.
Aku maju ke depan dengan langkah yang agak
gugup. Seolah-olah, semua mata sedang tertuju ke arahku. Perlahan-lahan,
kutuliskan namaku di papan tulis. Romaji, katakana, bahkan kanjinya sekaligus
(nama kanji itu sudah kupastikan pada sensei kursus bahasa Jepangku dulu).
Sebuah nama orang Indonesia yang umum. Namun
tentu saja, semua orang di ruangan itu manpak kesulitan mengeja tulisan
latinnya.
“Kurai...”
“Kuro..”
“Kure...”
Beberapa mencoba mengejanya. Hmph, payah.
Inikah mahasiswa S2 di Jepang? Pikirku.
“Key[1]-kun
desu,” ujarku jelas.
“Panggil saja aku Key. Itu nama panggilanku
saat kursus bahasa Jepang kemarin.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar